Sang Sayyid: Syiah dan Sunni Sadari Makar Musuh Islam
Ditulis oleh alkaaf di/pada Desember 17, 2008
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan orang dari berbagai kalangan hari ini, Rabu (17/12), pada peringatan hari raya Ghadir menyebut peristiwa Ghadir Khum yang terjadi tanggal 10 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah sebagai peristiwa yang menunjukkan pentingnya masalah pemerintahan dalam Islam. Langkah Nabi SAW di akhir-akhir hayatnya dengan mengumumkan Imam Ali as sebagai penerus beliau untuk memimpin umat Islam sebagai bukti kepedulian besar Islam terhadap masalah kepemimpinan.
Beliau menegaskan bahwa peristiwa Ghadir memberikan pelajaran kepada umat Islam bahwa kekuasaan atas masyarakat Muslim harus diserahkan kepada orang-orang yang menjunjung tinggi sifat-sifat agung yang ada pada diri Amirul Mukminin as, serta berusaha keras untuk mendekatkan diri kepada sifat-sifat yang sangat mulia itu. Imam Ali as adalah figur yang memiliki banyak karakteristik mulia dalam bentuknya yang sempurna seperti kepasrahan mutlak kepada keridhaan Allah swt, jihad di jalan Allah dengan segala kesulitannya dan tanpa henti, pengorbanan di jalan kebenaran dan hakikat, keteguhan yang bagai baja dalam menghadapi musuh Allah, berpaling dari gemerlap duniawi, serta rendah hati di hadapan orang-orang lemah dan tertindas.
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa Syiah memandang peristiwa Ghadir yang menjelaskan soal imamah dan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali as setelah Nabi SAW sebagai pokok utama keyakinan Syiah, dan kaum Syiah terus mempertahankan dan memegang teguh keyakinan ini bersama keyakinan yang lain dan khazanah keilmuannya meski menghadapi berbagai tekanan dan penindasan. Namun Syiah tidak akan mengizinkan keyakinan ini menjadi faktor pemicu perselisihan dan permusuhan di tengah dunia Islam.”
Seraya menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Iran yang mukmin dan kepada seluruh kaum muslimin atas peringatan hari raya Ghadir, beliau mengimbau semua pihak untuk memahami dengan benar pesan yang dibawa oleh peristiwa ini.
Ayatollah Al-Udzma Khamenei di bagian lain pidatonya menerangkan perbedaan persepsi antara Syiah dan Sunni dalam memandang peristiwa Ghadir Khum. Beliau mengatakan, “Meski ada perbedaan persepsi, namun Syiah dan Sunni sama-sama meyakini terjadinya peristiwa Ghadir. Syiah dan Sunni juga meyakini kebesaran figur Imam Ali as. Seluruh umat Islam memandang Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai puncak kemuliaan tertinggi yang tak mungkin bisa disamai dalam ilmu, taqwa dan keberanian.”
Beliau menyeru semua pihak, Syiah dan Sunni, untuk bersikap bijak dan tanggap dalam menghadapi makar dan tipu daya musuh yang berusaha menebar perpecahan di tengah umat Islam. Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa Imam Khomeini (ra) dan Republik Islam Iran selalu berusaha mencegah terjadinya perpecahan di tengah umat Islam. “Kaum arogansi dunia terpukul dengan adanya persatuan pandangan dan ikatan hati antara umat Islam, Syiah dan Sunni, yang tercipta berkat kemenangan revolusi Islam. Karena itulah sentimen madzhab yang mereka pandang sebagai cara terbaik dimanfaatkan untuk menebar pertikaian di tengah umat Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari Republik Islam Iran. Karena itu dalam menghadapi tipu daya berbahaya ini diperlukan kecerdasan dan kewaspadaan,” jelas beliau.
Rahbar menjelaskan bahwa banyak sumber yang telah mengungkapkan data akurat tentang adanya dana besar yang telah dikeluarkan oleh musuh-musuh umat Islam dalam upaya menebar perselisihan di tengah umat. Beliau mengingatkan bahwa buku-buku yang penuh dengan tuduhan dan cacian terhadap Syiah dan Ahlussunnah diterbitkan dengan dana yang dikeluarkan oleh lembaga di bawah naungan arogansi dunia. Penerbitan buku-buku seperti itu menurut beliau hanya membantu kepentingan AS dan zionisme internasional.
Di bagian lain pidatonya, Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan bahwa penulisan dan penerbitan buku-buku yang memuat argumentasi kuat dan logis, seperti yang dilakukan para ulama Syiah sepanjang sejarah dan terus berlanjut sampai saat ini bukan hal yang tercela. Yang tidak bias dibenarkan adalah menerbitkan buku berisi cacian dan tuduhan kepada umat Islam yang lain. Beliau menegaskan bahwa tipu daya kaum arogan tidak akan pernah bisa melemahkan umat Islam, jika bangsa-bangsa Muslim waspada dan sadar.