Alkaaf Weblog

Menjalin Silaturrahim Habaib

60 Tahun Yaum Nakbah, Hari Melapetaka

Ditulis oleh alkaaf di/pada Juni 3, 2008

Ahmad Hafidh Alkaf

Bagi mereka yang tidak pernah mengalami hak-haknya dinistakan, negerinya dirampas, sanak keluarganya dibantai, identitasnya dilenyapkan, mungkin makna dari kata Nakbah tidak bisa dipahami dengan penuh. Namun rakyat Palestina mengerti betul makna kata-kata itu. Karenanya, tak ada pilihan selain melawan untuk hidup atau mati terhormat.

Tanggal 14 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari nakbah atau hari petaka. Betapa tidak, 14 Mei tahun 1948, sekelompok orang Yahudi (baca zionis) yang umumnya pendatang mengumumkan berdirinya sebuah negara bernama Israel. Deklarasi itu direstui oleh Kerajaan Inggris hanya selang sehari sebelum Britania harus hengkang dari Palestina yang didudukinya sejak negeri ini lepas dari kekuasaan Ottoman, buah dari Perang Dunia I.

Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca tulisan yang menyebutkan bahwa berdirinya Israel adalah kesalahan orang-orang Palestina yang menjual tanah-tanah mereka kepada orang Yahudi zionis. Tak heran ketika orang-orang zionis sudah memiliki tanah yang luas mereka mendeklarasikan berdirinya sebuah negara yahudi, Israel. Benarkah, orang-orang Palestina telah menjual tanah mereka kepada Yahudi Zionis?

Tidak benar. Mungkin ada orang Palestina yang menjual tanahnya kepada orang Yahudi, namun jumlahnya sangat kecil. Sebab, yang terjadi sebenarnya adalah peristiwa lain. Orang-orang zionis merampas tanah-tanah bahkan rumah-rumah warga Arab Palestina secara paksa dan dengan kekerasan atau intimidasi. Pembantaian Deir Yassin adalah contohnya.

Tanggal 9 April 1948, atau sekitar 35 hari sebelum deklarasi Israel, terjadi pembantaian mengerikan di desa Deir Yassin. Tiga milisi zionis internasional, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang desa yang terletak di sebelah barat Beitul Maqdis atau Yerusalem itu. Lebih daripada 100 orang, baik pria, wanita, dan anak-anak dibantai. Sebagian korban bahkan dimutilasi dan diperkosa sebelum dibunuh. 25 orang lainnya dari desa itu diarak hingga ke Yerusalem lalu dieksekusi. Orang-orang zionis pun berdatangan ke desa itu dan berebut rumah dan tanah. Nama Deir Yassin diubah dengan nama Ibrani dan desa Palestina itu lenyap dari peta dan tak berbekas. Bagi rakyat Palestina, Deir Yassin adalah simbol hilangnya tanah tumpah darah mereka.

Kejadian Deir Yassin didengar oleh warga Palestina di tempat-tempat lain. Ketakutan pun merebak. Khawatir menjadi korban, banyak warga Palestina yang meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka untuk menyelamatkan diri. Pasukan teroris zionis menyerang desa-desa lainnya dengan brutal. Semakin hari semakin banyak desa Palestina yang jatuh ke tangan orang-orang zionis, hingga akhirnya pada tanggal 14 Mei, dideklarasikan berdirinya Israel. Saat itu lebih dari 700 ribu warga Palestina telah terusir dari kampung halaman mereka, dan kini jumlah mereka telah melampaui angka 4 juta jiwa. Mungkinkah mereka kembali? Semoga.

Sejarawan Israel bernama Benny Morris melaporkan terjadinya 24 pembantaian di Palestina selain peristiwa Deir Yassin yang dilakukan gerakan Zionis Internasional, dan kemudian negara Israel, pada 1948. Menurut Morris, “Dalam beberapa kasus, empat atau lima orang dieksekusi. Dalam kasus lain, angka-angka itu mencapai 70, 80, dan 100… Kasus-kasus terburuk adalah Saliha (70-80 dibunuh), Deir Yassin (100-110), Lod (250), Dawayima (ratusan) dan barangkali Abu Shusha (70)…”

Menurut data, sedikitnya 450 kota dan desa Palestina dibasmi penduduknya lewat serangan militer milisi Zionis atau karena ketakutan akan serangan-serangan seperti itu. Sebagian besar kota dan desa itu diratakan dengan tanah.

Kini sudah 60 tahun berlalu sejak Israel dideklarasikan, dan 60 tahun sudah rakyat Palestina menderita. Negeri mereka dirampas. Mereka terusir. Tak sedikit yang terbunuh di tangan kaum zionis yang haus darah.

Pada ulang tahun ke-60 hari Nakbah, satu setengah juta rakyat Palestina di Jalur Gaza berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat blokade penuh Israel. Bagi rezim zionis yang terbentuk dari aksi terorisme dan pembantaian warga Palestina, apa yang terjadi di Jalur Gaza bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Padahal, lembaga-lembaga internasional sudah penyuarakan peringatan jika kondisi ini berlanjut, tragedi kemanusiaan besar akan terjadi di sana.

Israel pantas menaruh kebencian kepada Jalur Gaza. Pasalnya, rakyat Palestina di wilayah ini telah belajar dari pengalaman 60 tahun pendudukan bahwa tak ada jalan selain melawan Israel. Semangat perlawanan dengan landasan Islam inilah yang ditakuti oleh Israel. Kesadaran dan semangat berjuang rakyat Palestina yang kian hari kian membara semakin mendekatkan Israel ke ambang kehancuran. Alaisas subhu bi qariib. (taghrib/ahf)

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>